082242108531
082242108531
082242108531
D9A5E89D

Cara paling aman dan baik bagi wanita untuk melakukan pengguguran kandungan (aborsi) sendiri sampai dengan usia kehamilan minggu ke-16 adalah dengan meminum obat Misoprostol (juga dikenal dengan nama Cytotec, Arthrotec, Oxaprost, Cyprostol, Mibetec, Prostokos or Misotrol).
Cara aborsi medis ini telah memberi tingkat keberhasilan lebih dari 97%. Bila Anda tinggal di negara yang tidak menyediakan akses pelayanan aborsi yang aman dan Anda ingin menggugurkan kandungan dengan obat Misoprostol (GASTRUL, CYTOTEC DLL), anda berada di halaman web yang tepat. Ini adalah pelayanan aborsi medis lewat internet dengan seorang dokter yang bisa membantu Anda dalam hal aborsi secara medis.
Seorang wanita juga bisa melakukan pengguguran kandungan sendiri sampai kehamilan minggu ke-16 hanya dengan meminum obat Misoprostol (juga dikenal dengan nama Cytotec, Arthrotec, Oxaprost , Cyprostol, Mibetec, Prostokos or Misotrol).

Abortion pills orange.jpg

Dalam halaman web ini saya memberi informasi tentang Misoprostol: tindakan-tindakan pencegahan, bagaimana cara obat ini bekerja, cara pakai paling efektif, apa yang Anda bisa harapkan dan kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi. saya juga menyediakan latar belakang ilmiah.

Bagi wanita yang tinggal di negara yang mengijinkan aborsi secara hukum dan menyediakan pelayanan aborsi yang aman, sebaiknya Anda mengunjungi seorang dokter. Untuk melihat daftar klinik aborsi di negara Anda.

Ada wanita yang mencoba melakukan aborsi dengan memasukkan barang tajam atau kotor ke dalam rahim atau kandungan, atau dengan meninju perut. Cara-cara ini sangat berbahaya dan tidak boleh dilakukan karena bisa mengakibatkan luka dalam, infeksi, pendarahan berat dan juga kematian.

Menggugurkan kandungan adalah keputusan yang amat sulit. Apabila Anda tidak bisa membicarakan aborsi ini atau tidak ada pilihan lain untuk berdiskusi dengan dokter atau pelayan kesehatan, saya menasehatkan untuk membicarakannya dengan teman baik atau anggota keluarga. Apabila Anda perempuan yang masih muda, pembicaraan ini bahkan lebih penting. Bicarakanlah situasi ini, keputusan Anda dan tata cara aborsi dengan orang tua atau orang dewasa lain yang Anda percayai.

Bila Anda sudah yakin akan menggugurkan kandungan dan tidak mempunyai pilihan lain, cetaklah dan pelajarilah instruksi-instruksi ini dulu. Bahaskanlah dengan teman. Seorang wanita seharusnya tidak melakukan sendiri aborsi ini.

BAGAIMANA CARA KERJA OBAT MISOPROSTOL? Anda tidak boleh melakukan aborsi sendiri bila usia kehamilan sudah lebih dari 9 minggu, harus di dampingi pasangan anda.
Obat Misoprostol mengakibatkan kontraksi rahim. Sebab itu, rahim akan memaksakan pengguguran kehamilan. Anda akan mengalami kram yang menyakitkan, kehilangan darah dari vagina yang lebih banyak dari menstruasi biasa, rasa mual, muntah dan diare. Ada juga kemungkinan risiko pendarahan berat. Jika ini terjadi, Anda harus segera pergi ke dokter spesialist kandungan.

Pengalaman dan risiko aborsi dengan mengambil obat Misoprostol mirip dengan pengalaman dan risiko pengguguran alami? Pengguguran alami atau spontan terjadi tanpa tindakan apapun sebanyak 10% dari semua kehamilan.

Perawatan akibat komplikasi aborsi, juga sama dengan perawatan untuk pengguguran alami. Jika ada problem, Anda harus segera ke rumah sakit atau ke seorang dokter. Dokter akan merawat Anda seolah-olah Anda mengalami pengguguran alami.

Pertanyaan Umum

Apakah sah secara hukum?

Di banyak negara, jika anda menerima paket obat-obatan di alamat rumah, hal ini bukan merupakan pelanggaran bea cukai.

• Di kebanyakan Negara, setiap orang boleh menerima obat-obatan untuk penggunaan pribadi.
• Misoprostol adalah obat-obatan penting dalam daftar WHO. Mereka bukan jenis narkotika (seperti morfin atau kokain), ekstasi, obat selundupan atau zat yang dikendalikan.
• Misoprostol adalah obat yang terdaftar diberbagai negara dan dapat digunakan untuk mencegah tungkak lambung.
Kepemilikin Misoprostol dalam jumlah kecil untuk penggunaan pribadi tidak dilarang di banyak negara.

Peraturan bea cukai di banyak negara di seluruh dunia memperbolehkan orang-orang untuk menerima paket obat-obatan. Penerimaan dalam jumlah besar melalui pos untuk kepentingan komersil tidak diperbolehkan tanpa ijin impor dan distribusi.

Ijin bea cukai merupakan tanggungjawab anda: saat paket sampai di negara anda, ada kemungkinan paket yang akan anda terima dikenai pajak barang impor. Dalam hal ini, anda akan dihubungi oleh perusahaan pengiriman karena pajak yang dikenakan harus dibayar sebelum pengiriman. Jika anda tidak membayar pajak tersebut, yang nominalnya berbeda di setiap negara, maka paket akan dimusnahkan. Karena paket tersebut digunakan untuk konsumsi pribadi dan bukan untuk dijual, umumnya tidak dikenai pajak. Selain itu, perlu diketahui bahwa setelah barang dikirim oleh perusahaan jasa pengiriman, kepemilikan barang jatuh pada anda.

Anda dianggap sebagai importir dan harus mematuhi semua peraturan dan hukum yang berlaku di negara dimana anda menerima paket. Silakan menemukan peraturan bea cukai Negara anda di:
USP (Informasi hanya dalam bahasa Inggris) atau hubungi kantor bea cukai di negara anda.

[collapse]
Apa itu aborsi medis?

Aborsi medis menggunakan obat atau kombinasi tablet untuk menyebabkan kehamilan berhenti tanpa operasi hingga usia kehamilan 10 minggu.
Aborsi medis yang paling aman dan efektif menggunakan pil Misoprostol, Pil ini akan memicu kehamilan keluar secara spontan dari rahim.

Sumber ilmiah:

Misoprostol merupakan obat-obatan penting yang didaftar oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Misoprostol menghambat hormon progesterone yang diperlukan untuk mempertahankan kehamilan. Tanpa hormon ini pelekatan telur yang dibuahi ke dinding rahim akan terganggu, dan rahim akan berkontraksi dan Misoprostol juga meningkatkan kontraksi dan membantu mengeluarkan produk-produk kehamilan dari rahim.

Misoprostol terbukti sangat efektif dan aman, serta dapat dilakukan untuk aborsi trimester pertama. Efek samping dari metode aborsi ini termasuk kram dan perdarahan seperti menstruasi yang lebih lama. Efek samping umum lainnya adalah mual, muntah, dan diare. Resiko komplikasi serius terhitung rendah. Penelitian menunjukkan bahwa aborsi medis aman dilakukan di rumah selama perempuan tinggal dekat layanan kesehatan seperti rumah sakit atau klinik.

[collapse]
Apakah sulit melakukan aborsi medis sendiri?

Tidak. Anda dapat menggunakan Misoprostol secara mandiri. Menggunakan Misoprostol tidaklah sulit, sama dengan penggunaan obat-obatan lainnya. Anda akan mendapatkan instruksi yang jelas mengenai cara pemakaian obat, apa yang akan terjadi, dan kapan pergi ke dokter. Jika anda punya pertanyaan tentang setiap langkah dari proses tersebut, silakan menghubungi saya. Aborsi medis tidak perlu dilakukan di rumah sakit atau Puskesmas.

Resiko aborsi medis tidak berbeda dari keguguran. Keguguran biasanya tidak terjadi di rumah sakit, tetapi di rumah. Kebanyakan perempuan bisa menangani aborsi medis secara mandiri di rumah dan hanya akan ke rumah sakit jika terjadi masalah seperti perdarahan berat atau demam. Aborsi medis memicu keguguran. Anda dapat menggunakan obat-obatan tersebut di rumah hanya jika kehamilan anda tidak lebih dari 9 minggu dan anda tinggal satu jam dari layanan kesehatan.

Sumber ilmiah:

Misoprostol tidak menyebabkan efek samping yang harus selalu dimonitor dalam seting klinis. Pemakaian Misoprostol secara mandiri dengan benar tidaklah rumit. Tidak seperti obat-obatan lain, seperti Adriamycin atau penisilin suntik yang memerlukan pengawasan dokter saat pemakaian untuk memantau reaksi cepat atau potensi reaksi fatal, penggunaan Misoprostol aman, mudah, dan dapat terpantau baik selama atau sesudah pemakaian.

Beberapa kajian telah dilakukan untuk menentukan apakah perempuan dapat menggunakan misoprostol di rumah, dan hasilnya adalah ya, perempuan mampu menggunakan misoprostol secara mandiri di rumah dan hal ini aman dilakukan . Misoprostol merupakan bagian dari regimen yang dapat menyebabkan kontraksi dan perdarahan. Misoprostol lebih beresiko. Namun, para peneliti memastikan bahwa perempuan dapat menggunakan obat ini di rumah. Dari kajian-kajian tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa perempuan mampu menggunakan Misoprostol di rumah dengan benar dan aman.

Beberapa kajian yang ada membuktikan bahwa perempuan mampu menangani efek samping yang ditimbulkan. Satu kajian telah dilakukan dengan melibatkan ribuan perempuan amerika untuk menguji apakah mereka dapat menggunakan Misoprostol dengan aman dan sukses tanpa pengawasan penuh dari tenaga ahli. Para peneliti menemukan bahwa perempuan mampu mengikuti petunjuk mencari perawatan lanjutan jika timbul masalah. Melalui kajian-kajian tersebut selalu dapat disimpulkan bahwa perempuan mampu menangani jaringan dan darah yang keluar selama aborsi medis yang dilakukan secara mandiri.

Dalam kajian lainnya yang melibatkan lebih dari 1.000 perempuan, para peneliti menyatakan bahwa kunjungan tindak lanjut ke klinik setelah aborsi medis mungkin tidak diperlukan. Mereka menyatakan, “Hanya sedikit bukti menunjukkan bahwa kunjungan lanjutan wajib mendeteksi kondisi yang tidak dapat dipelajari oleh perempuan. Seperti telah disarankan bahwa pemberian petunjuk sederhana dan saran untuk mendeteksi komplikasi kepada perempuan dapat menjadi alternatif atas tindak lanjut di klinik. Perempuan akan mencari perawatan medis jika mereka menemukan masalah. Saat mereka memiliki informasi dan akses terhadap perawatan medis jika terjadi keadaan darurat, perempuan baik di negara berkembang atau maju dapat mengendalikan efek aborsi secara mandiri.

Dokter-dokter di Scotlandia melakukan kajian dimana perempuan melakukan aborsi di rumah. Salah satu peneliti, Dr. Gillian Penney of Aberdeen University, menyatakan, “Saya sangat terkejut dengan tingkat penerimaan aborsi mandiri diantara para perempuan. Saya kira hal itu akan membuat ngeri perempuan dan mereka akan meminta didampingi staff yang dapat mendukung dan meyakinkan mereka selama proses berlangsung. Namun, para perempuan yang benar-benar mengalaminya merasa bahwa situasi ini adalah hal yang bisa mereka atasi di rumah. Kebanyakan ingin memilih pendampingnya dan dapat menggunakan toilet pribadinya sendiri. Tidak seorang pun dari 50 perempuan dalam kajian tersebut yang melaporkan adanya masalah. The British Pregnancy Advisory Service dan the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists mendukung akses perempuan terhadap aborsi medis mandiri.

[collapse]
Apakah aborsi medis berbahaya?

Aborsi medis yang dilakukan pada rentang waktu 9 minggu pertama kehamilan memiliki sedikit sekali resiko komplikasi. Resikonya sama besar dengan saat perempuan mengalami keguguran alami. Masalah seperti ini dapat ditangani oleh dokter dengan mudah. Dari 100 perempuan yang melakukan aborsi medis, 2 atau 3 perempuan harus pergi ke dokter atau layanan kesehatan darurat untuk menerima perawatan lebih lanjut. Di Negara dimana proses persalinan dianggap aman, 1 diantara 10.000 perempuan meninggal saat melahirkan. Sedangkan, kurang dari 1 diantara 100.000 perempuan yang melakukan aborsi medis meninggal. Hal ini membuat aborsi medis lebih aman dibanding proses persalinan, dan seaman keguguran spontan. Ini berarti bahwa aborsi aman dengan Misoprostol dapat menyelamatkan nyawa perempuan.

Sumber ilmiah:

Penelitian menunjukkan bahwa sedikit sekali komplikasi serius yang disebabkan oleh aborsi medis dibandingkan dengan angka perempuan yang sukses melakukan aborsi medis. Dalam segelintir kasus, intervensi bedah seperti kuret (vakum aspirasi) diperlukan, hal ini dapat dilakukan oleh fasilitas kesehatan yang biasa menangani kasus perempuan yang keguguran.

Lama Kehamilan % dari perempuan yang membutuhkan perawatan medis lebih lanjut
0- 49 hari (0-7 minggu) 2 %
40-63 hari (7-9 minggu) 2.5%
64-70 hari (9-10 minggu) 2.7%
71-77 hari (10-11 minggu) 3.3%

(Perawatan medis lanjutan termasuk vakum aspirasi untuk kehamilan yang berlanjut atau aborsi tidak lengkap.)

2 atau 3 dari 100 perempuan yang melakukan aborsi medis akan membutuhkan bantuan dokter setempat, puskesmas, atau rumah sakit untuk menerima perawatan lebih lanjut seperti vakum aspirasi. Resikonya sama dengan perawatan medis yang diperlukan saat mengalami reaksi alergi setelah penggunaan penisilin.

Aborsi medis dengan Misoprostol banyak digunakan di negara-negara Eropa. Di Perancis, sekitar 1.000.000 aborsi dilakukan dengan Misoprostol sejak 1992 dan tidak ada kasus kematian terjadi.

Pada Januari 2009, sekitar 1,000,000 perempuan di Amerika Serikat dan lebih dari 2 juta perempuan di Eropa telah menggunakan Misoprostol untuk memicu aborsi.
Di tahun 2005 Badan Pangan dan Obat Amerika Serikat (FDA) mempublikasikan sebuah saran kesehatan masyarakat terkait penggunaan Misoprostol untuk aborsi medis. Di dalamnya, FDA menyatakan, “Resiko sepsis fatal pada perempuan yang melakukan aborsi medis sangat jarang (kira-kira 1 diantara 100.000). 

Kemungkinan kematian akibat aborsi medis kurang dari 1 diantara 100.000. Keguguran (disebut juga aborsi spontan) relatif sering terjadi terkait kehamilan, terjadi sekitar 15 dari 100 kehamilan. Angka kematian terkait dengan keguguran di AS juga kurang dari 1 kematian per 100.000 keguguran. Karena itu, angka kematian terkait dengan aborsi medis hampir sama dengan angka kematian dalam kasus keguguran.

Bandingkan angka kematian ini dengan kematian yang disebabkan oleh Viagra, obat yang dipakai untuk pengobatan disfungsi ereksi.
Awal tahun 2000, sekitar 11 juta resep dituliskan untuk Viagra. 564 pria meninggal karena pemakaian obat tersebut, menurut artikel yang dimuat the Journal of the American Medical Association. Berdasarkan jumlah resep yang dituliskan, angka kematian berkisar antara 1 dari 20,000 resep! Kebanyakan lelaki memperoleh lebih dari 1 resep, dan ini berarti angka kematian sebenarnya lebih tinggi daripada 1 dari 20,000 pengguna. Nampaknya, angka kematian terkait Viagra masih belum menjadi alasan untuk menarik obat ini dari pasaran.

Bandingkan angka kematian aborsi medis dengan angka kematian akibat penisilin. Reaksi fatal terhadap penisilin terjadi pada 1 kasus per 50,000-100,000 pengobatan. Hal ini berarti bahwa aborsi medis lebih aman dibandingkan pengobatan dengan penisilin.

Resiko yang dikaitkan dengan keguguran dan aborsi aman dan legal “pada intinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan resiko melanjutkan kehamilan.”

Di banyak Negara, ada lebih banyak kematian terkait dengan persalinan dibanding aborsi yang dipacu. Angka riil kematian akibat aborsi yang dipacu jauh lebih kecil dibandingkan dengan angka yang tertera dalam chart dibawah ini. Hal ini disebabkan kematian yang terkait dengan aborsi yang dipacu masuk dalam kelompok kategori yang sama dengan keguguran dan kehamilan ektopik.

Negara Kematian akibat Keguguran, kehamilan ektopik, aborsi Kematian akibat Keguguran, kehamilan ektopik, aborsi per kelahiran hidup Kematian terkait kehamilan, tidak termasuk aborsi Kematian terkait kehamilan per kelahiran hidup
Perancis 2 1 dari 387,000 48 1 dari 16,000
Australia 0 0 dari 246,000 12 1 dari 21,000
Canada 1 1 dari 328,000 10 1 dari 33,000

Sumber: Database Kematian WHO, 2001

Meskipun komplikasi dapat terjadi, aborsi medis menggunakan layanan ini jauh lebih aman dibandingkan aborsi tidak aman di tempat yang sangat dibatasi. 19 juta aborsi tidak aman terjadi setiap tahun, dan 68,000 diantaranya berujung pada kematian perempuan. Ini berarti satu diantara 279 perempuan yang melakukan aborsi tidak aman mati sia-sia.
Untuk setiap 68,000 perempuan ini, terdapat 30 lebih (total 2,040,000 perempuan) yang menderita kesakitan dan kecacatan akibat aborsi tidak aman. Ini berarti 1 dari setiap 9 perempuan yang melakukan aborsi tidak aman menderita komplikasi jangka panjang yang tidak perlu.

[collapse]
Apakah aman konsultasi aborsi medis lewat internet?

Konsultasi melalui internet sama dengan konsultasi tatap muka. Dalam konsultasi online, dokter mengajukan beberapa pertanyaan guna mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk memastikan anda dapat melakukan aborsi medis secara aman. Dokter selalu mengandalkan informasi yang anda berikan seperti halnya dalam konsultasi tatap muka.

Ada beberapa alasan mengapa anda mungkin tidak dapat menggunakan obat-obatan yang menyebabkan aborsi. Anda tidak boleh menggunakannya jika:

• Seseorang memaksa anda mengakhiri kehamilan.
• Hari pertama menstruasi terakhir anda sudah lebih dari 9 minggu yang lalu.
• Anda memiliki alergi terhadap Misoprostol atau prostaglandin.
• Anda memiliki satu diantara penyakit berikut ini: kegagalan adrenal kronis, gangguan hemoragik, porphyries turunan, anemia parah, atau asma yang parah dan tidak bisa diobati. (Kecil kemungkinan anda memiliki salah satu penyakit ini tanpa mengetahuinya terlebih dahulu.)
• KB IUD anda masih terpasang. Alat ini harus dikeluarkan sebelum menggunakan obat-obatan.
• Anda sedang mengalami kehamilan ektopik (hamil diluar rahim).
• Anda tidak berada dalam jarak 1 jam dari rumah sakit atau layanan kesehatan.
• Anda sendirian. Sebaiknya anda meminta pasangan, teman atau orang kepercayaan anda yang lain untu menemani selama anda menggunakan obat-obatan tersebut.

Sumber ilmiah:

Penyaringan untuk kontraindikasi di internet sama dengan penyaringan saat kunjungan tatap muka antara dokter dan pasien. Dokter umumnya mengetahui kontraindikasi dengan cara menanyakan kondisi medis pasien. “Semua kontraindikasi terhadap Misoprostol, kecuali usia kehamilan, jarang ditemukan dan berdasarkan sejarah medis pasien. Oleh karena itu, kondisi tersebut biasanya telah diketahui sejak awal oleh perempuan. Selain itu, dokter selalu menanyakan apakah kondisi tersebut dialami oleh perempuan”.

[collapse]
Mengapa layanan ini dibutuhkan?

Layanan aborsi aman dibutuhkan untuk melindungi kesehatan dan nyawa perempuan saat ia memutuskan untuk mengakhiri kehamilan. Layanan ini juga bergantung pada perempuan untuk membuat keputusan mengenai tubuh mereka secara sadar dan bertanggungjawab. Aborsi merupakan intervensi medis yang paling sering dilakukan di dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahunnya, 42 juta perempuan memilih untuk aborsi dengan alasan pribadi yang beragam. Meski demikian, masih banyak perempuan yang tidak memiliki akses terhadap layanan aborsi aman dan terpaksa mempertaruhkan nyawa dan kesehatan mereka. Mereka mencoba mengakhiri kehamilan dengan cara memasukkan jarum rajut ke dalam rahim, solusi pencucian, memukul-mukul perut. Mereka menerima layanan aborsi dari individu yang tidak terlatih dengan kondisi yang tidak bersih. Hal ini berbahaya dan tidak seharusnya dilakukan. Layanan ini menyediakan alternatif aman dengan memberikan akses aborsi medis kepada perempuan.

Sumber ilmiah:

Saya bekerja membantu perempuan mencapai definisi kesehatan yang dipakai oleh Organisasi Kesehatan Dunia. “Kesehatan adalah kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan sosial yang lengkap bukan hanya bebas dari penyakit atau lemah.” (Pembukaan dari Konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia, diadopsi oleh seluruh anggota Organisasi Kesehatan Dunia di tahun 1946 sebagai definisi operasi kesehatan) Bukti-bukti menunjukkan bahwa tanpa akses yang memadai terhadap layanan aborsi aman, perempuan bersedia mempertaruhkan nyawa dan kesehatan mereka demi mendapatkan layanan aborsi illegal dari orang yang tidak terlatih dengan kondisi yang tidak steril. Karenanya, akses terhadap aborsi legal dan aman diperlukan guna melindungi nyawa dan kesehatan perempuan.

sy memastikan bahwa perempuan dengan kehamilan tidak direncanakan dan ketiadaan akses aborsi aman memenuhi syarat bagi pengecualian penyediaan perawatan aborsi guna menyelamatkan nyawa dan kesehatan dibawah undang-undang aborsi yang membatasi. Ketika perempuan tidak memiliki akses layanan aborsi aman, maka nyawanya sedang terancam. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, 1 dari 300 perempuan yang mengalami aborsi tidak aman meninggal dengan sia-sia. Lebih lanjut, bahkan di negara-negara dimana proses persalinan tergolong aman, 1 diantara 10.000 atau 5.000 perempuan meninggal saat melahirkan.

Prosedur aborsi menggunakan Misoprostol memiliki resiko kematian 1 dari 100.000. Ini berarti bahwa aborsi aman dengan Misoprostol dapat menyelamatkan nyawa perempuan.

[collapse]

Sekarang saya akan berbagi informasi penting yang perlu diketahui oleh semua wanita yang ingin menggugurkan kandungan dengan obat.

KLIK Spoiler Untuk Melihat Info Penjelasan

Anda harus pasti bahwa Anda hamil.

Lakukanlah tes kehamilan atau USG.

[collapse]
Makan obat Misoprostol hanya kalo Anda 100% pasti ingin mengakhiri kehamilan Anda. Lakukanlah USG sebelum mengambil obat Misoprostol.

USG menunjukkan apakah kehamilan itu berada di dalam rahim dan telah berapa minggu usia kehamilan Anda.

[collapse]
Janganlah melakukan aborsi sendiri.

Mempunyai seseorang dekat sewaktu aborsi adalah sangat penting; seseorang ini bisa jadi pasangan Anda, teman atau anggota keluarga yang mengerti aborsi dan bisa membantu jika ada komplikasi. Setelah pendarahan mulai, seseorang perlu terus menghubungi Anda supaya dia bisa membantu jika ada komplikasi.

[collapse]
Obat Misoprostol boleh dipakai tanpa pengawasan medis hanya kalau Anda tidak mempunyai penyakit serius.

Biasanya penyakit tidak menjadi masalah. Tetapi beberapa penyakit, seperti anemia berat, bisa menjadi masalah karena cara aborsi ini mengakibatkan pendarahan yang berat.
Karena penyakit parah bisa membahayakan calon ibu dan anak, hal ini sering kali menjadi alasan yang wajar untuk melakukan aborsi, bahkan di negara dengan peraturan-peraturan yang membatasinya.

DILARANG MENGGUNAKAN ALKOHOL ATAU NARKOBA SELAMA PENGOBATAN!!!

[collapse]
Jangan menggunakan Misoprostol bila ada kemungkinan hamil ektopik (kehamilan di luar kandungan) !

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang tidak terjadi di dalam kandungan (uterus), di saluran tuba, kornu (tanduk rahim), indung telur, atau justru di dalam perut. Kehamilan ektopik bisa dideteksi lewat USG. Bila terdeteksi, kehamilan ektopik perlu segera ditangani oleh ginekolog (dokter ahli kandungan karena kehamilan ektopik ini sangat membahayakan nyawa si ibu. Bila tidak segera dirawat dan dengan makin membesarnya janin, baik saluran tuba, indung telur, ataupun kornu, bisa pecah dan mengakibatkan perdarahan dalam yang parah.

Di beberapa negara, bahkan di negara-negara dimana aborsi merupakan pelanggaran hukum, seorang ginekolog biasanya merawat ibu-ibu dalam kondisi tersebut. Kehamilan ektopik tidak bisa dirawat dengan Misoprostol.

[collapse]
Jangan menggunakan Misprostol bila Anda memakai kontrasepsi spiral (IUD).

IUD atau spiral adalah alat kontrasepsi spiral yang kecil (kira-kira 3 cm) dan diletakkan di dalam rahim oleh dokter untuk mencegah kehamilan. Bila Anda hamil dan memakai IUD, kami sarankan untuk melakukan USG karena kemungkinan untuk kehamilan ektopik lebih besar. Bila kehamilan terjadi di dalam kandungan, Anda perlu mengeluarkan IUD tersebut sebelum melakukan aborsi.

[collapse]
Misoprostol hanya digunakan bila transportasi ke Rumah Sakit mudah dicapai.

Cara itu, jika komplikasi-komplikasi terjadi, maka bantuan medis dapat segera diberikan.

[collapse]
Jangan menggunakan obat Misoprostol bila Anda alergis terhadap obat Misoprostol atau prostaglandin lain.

Ini merupakan kondisi yang jarang dan hanya bisa diketahui bila Anda pernah mengalami reaksi alergis terhadap obat-obat ini. Bila Anda belum pernah menggunakan obat ini sebelumnya, berarti Anda belum pernah mengalami reaksi alergis terhadap obat ini.

[collapse]
Ada kemungkinan bahwa aborsi gagal dengan menggunakan obat Misoprostol.

Kemungkinan keberhasilan penggunaan obat Misoprostol hanya 97%. Cara aborsi ini gagal bila obat ini tidak mengakibatkan perdarahan ataupun ada perdarahan tetapi kehamilan masih berlangsung. Anda bisa coba menggunakan obat ini lagi dalam beberapa hari, tetapi ini pun bisa gagal.

Jika kandungan tidak gugur dalam 7 hari setelah memakan obat Misoprostol dan tidak ada dokter yang bersedia untuk menolong Anda, Anda tidak mempunyai pilihan lain selain pergi ke negara lain dimana aborsi tidak dilarang hukum atau meneruskan kehamilan Anda.

Ada risiko cacat lahir seperti kelainan bentuk tangan atau kaki atau masalah dengan saraf janin, bila kehamilan dilanjutkan setelah mencoba aborsi dengan obat-obat ini. Beberapa dokter mungkin akan menganggap ini sebagai alasan yang sah untuk melakukan aborsi, jadi cobalah untuk menemukan satu dokter yang mau membantu Anda.

[collapse]
Penyakit Menular Seksual perlu dirawat.

Bila Anda mempunyai atau ada kemungkinan mempunyai Penyakit Menular Seksual (PMS), seperti Klamidia atau Gonorea, pergilah ke dokter supaya penyakit ini bisa ditangani dengan benar. Kemungkinan terjangkitnya penyakit tersebut lebih tinggi setelah perkosaan atau berhubungan seksual dengan orang yang tak dikenal, yang kemungkinan mengidap penyakit tersebut. Di banyak negara, kehamilan akibat perkosaan merupakan alasan yang sah untuk melakukan aborsi.
Bila tidak merawat penyakit seksual, risiko infeksi dan peradangan kandungan dan saluran tuba akan meningkat. Peradangan seperti ini disebut penyakit radang panggul (PID) atau salpingitis atau adnexitis.

[collapse]

CARA MENDAPATKAN OBAT MISOPROSTOL

Di beberapa negara, Anda bisa mendapatkan obat Misoprostol dari apotek dan menggunakannya sendiri. Tetapi di indonesia ini tidak mungkin anda dengan mudah mendapatkan obat-obat tersebut karena sangat di lindungi peredaran nya dan jarang apotik yang berani memperjual belikan obat ini.

Obat Misoprostol juga disebut dengan nama-nama merek lain, seperti Cytotec, Gastrul, Arthrotec, Oxaprost, Cyprostol , Prostokos atau Misotrol.

Satu pil Cytotec atau Arthrotec biasanya mengandung 200 mikrogram Misoprostol. Bacalah kandungan obat yang terdapat pada bungkusan pil tersebut. Biasanya tertulis bahwa setiap pil mengandung 200 mcg, tetapi ada juga yang dosisnya berbeda.

CARA PEMAKAIAN OBAT MISOPROSTOL

Dimana aborsi dilarang, obat Misoprostol hanya boleh dipakai untuk menggugurkan kandungan. Menggunakan obat Misoprostol sembarangan bisa membahayakan kesehatan Anda!

Apabila anda membeli obat di situs ini anda akan mendapatkan panduan 1×24 jam selama pemakaian dengan panduan yang tepat sesuai dengan usia kandungan dan saya bertanggung jawab penuh terhadap semua proses nya sampai selesai. Jadi anda tidak perlu khawatir.

Tingkat keberhasilan aborsi dengan cara ini 97%.

Perdarahan setelah aborsi

Perdarahan bisa berlangsung 1-2 minggu setelah aborsi, tetapi kadang-kedang lebih pendek atau lebih lama. Menstruasi biasa kembali dalam 4-6 minggu.

[collapse]
Memastikan bahwa aborsi berhasil

Kadang2 wanita bisa mengalami pendaharan tanpa menggugurkan kandungan. Oleh karenyanya sangat penting untuk memastikan bahwa aborsi benar-benar berhasil. Tes kehamilan akan menunjukkan negatif setelah 2-3 minggu. Jadi jika memungkinkan, lakukanlah USG 1 minggu setelah aborsi untuk memastikan bahwa kandungan kosong.

[collapse]
EFEK SAMPING

Efek samping yang paling umum adalah rasa mual, muntah-muntah dan diare. Anda mungkin juga demam.

[collapse]

KAPAN HARUS MENGABARI DOKTER ATAU PERGI KE RUMAH SAKIT

Kalau perdarahan berat

Pendarahan berat adalah pendarahan yang berlangsung lebih dari 2-3 jam dan membasahi lebih dari 2-3 pembalut saniter yang besar per jam. Merasa pusing adalah tanda bahwa Anda kehilangan terlalu banyak darah dan bahaya buat kesehatan Anda.
Jika pendarahan berat tidak berkurang setelah 2-3 jam, berarti aborsi tidak lengkap (masih ada sisa2 kehamilan di kandungan) dan Anda perlu perawatan medis. Hal ini bisa terjadi beberapa jam setelah mengambil obat Misoprostol tetapi juga lebih dari 2 minggu setelah aborsi.

[collapse]
Jika ini terjadi, Anda perlu pergi ke rumah sakit terdekat atau memberitahu dokter.

Di negara2 dimana aborsi dilarang, dokter atau perawat kadang-kadang akan melaporkan Anda ke polisi. Jika memungkinkan, disarankan untuk segera memberitahu dokter yang Anda percaya.
Di negara-negara dimana Anda bisa dituntut karena melakukan aborsi, Anda tidak perlu memberi-tahukan staf medis bahwa Anda ingin sengaja menggugurkan kandungan. Anda juga bisa mengatakan bahwa keguguran terjadi alamiah atau spontan. Dokter TIDAK BISA melihat perbedaannya. Cara rawatnya sama, lewat kuretase atau aspirasi vakum, dokter akan mengosongkan kandungan.
Dokter wajib untuk membantu dalam semua kasus.

[collapse]
Jika Anda demam

Rasa panas-dingin merupakan efek samping yang normal dari obat Misoprostol. Tetapi jika Anda demam (> 38 derajat Celsius) selama lebih dari 24 jam atau Anda mengalami demam lebih dari 39 derajat, segera beritahukan dokter karena mungkin aborsi tidak tuntas dan Anda perlu merawatkan infeksi dengan antibiotik atau aspirasi vakum.

[collapse]
Jika obat Misoprostol tidak mempan

Jika obat Misoprostol tidak mengakibatkan pendarahan atau pendarahan hanya sedikit tetapi kehamilan berlanjut, ada risiko cacat lahir seperti kelainan bentuk tangan atau kaki atau masalah saraf janin bila kehamilan dilanjutkan setelah mencoba aborsi dengan obat-obat ini. Karena ada risiko cacat lahir ini, Anda harus segera menghubungi dokter dan melakukan aspirasi vakum, jika aborsi dengan obat Misoprostol gagal.

Anda bisa mengatakan bahwa keguguran terjadi alamiah atau spontan. Di negara-negara dimana Anda bisa dituntut karena melakukan aborsi, Anda tidak perlu memberitahukan staf medis bahwa Anda ingin sengaja menggugurkan kandungan. Dokter TIDAK BISA lihat perbedaan-nya.

Jika aborsi tidak tuntas, Anda memerlukan kuretase atau aspirasi vakum dimana dokter akan mengosongkan kandungan. Dokter wajib untuk membantu dalam semua kasus.

[collapse]

UNTUK MASA DEPAN

Pakailah alat kontrasepsi yang benar untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

IUD atau spiral bisa dipasangkan oleh dokter setelah pendarahan selesai dan tes kehamilan negatif atau USG menunjukkan bahwa kandungan kosong.

Kontrasepsi oral bisa digunakan setelah pendarahan selesai tetapi tidak akan benar-benar aman di bulan pertama. Pakailah kontrasepsi tambahan seperti kondom untuk perlindungan ekstra selama bulan pertama.

DAFTAR RUJUKAN

Dibawah ini merupakan sumber-sumber informasi yang terdapat dalam bagian Pertanyaan dan Jawaban. Dengan mendalami sumber-sumber ini, anda dapat menemukan kajian-kajian ilmiah dan artikel yang menjelaskan lebih lanjut mengenai informasi dan layanan yang saya sediakan.

Daftar Rujukan

1. Grossman,|Daniel, Charlotte Ellertson, David A. Grimes and Dilys Walker. (2004) Routine Follow-up Visits After First-Trimester Induced Abortion. .Obstetrics and Gynecology (103)4:738-745

2. Ellertson, Charlotte, Batya Elul, Shuha Ambardekar, Lindy Wood, Julie Carroll and Kurus Coyaji. (2000) Accuracy of assessment of pregnancy duration by women seeking early abortions. Lancet 355: 877-881.

3. Taylor, Diana, Ann C. Hwang and Felicia H. Stewart. (2004) Care for Women Choosing Medication Abortion. The Nurse Practitioner 29(10):65-70.

4. International Consortium for Medical Abortion. (2004) Medical Abortion: Expanding Access to Safe Abortion and Saving Women’s Lives. Statement from: Medical Abortion: An International Forum on Policies, Programmes and Services, 17-20 October 2004, Johannesburg, South Africa. Medical Abortion Consortium (Retrieved July 26, 2005)

5. Elul, Batya, Selma Hajri, Nguyen thi Nhu Ngoc, Charlotte Ellertson, Claude Ben Slama, Elizabeth Pearlman and Beverly Winikoff. (2001) Can women in less-developed countries use a simplified medical abortion regimen? Lancet 357:1402-05.

6. The Population Council. (1998) Medical Methods of Early Abortion in Developing Countries: Consensus Statement. Contraception 58:257-59.

7. Harper, Cynthia, Charlotte Ellertson and Beverly Winikoff. (2002) Could American women use mifepristone-misoprostol pills safely with less medical supervision? Contraception 65:133-142.

8. Ashok, P.W., A. Templeton, P.T. Wagaarachchi and G.M.M. Flett. (2004) Midtrimester medical termination of pregnancy: a review of 1002 consecutive cases. Contraception 69:51-8.

9. Grimes, David A. (2005) Risks of Mifepristone Abortion in Context. Contraception 71.

10. E.C.H. Sorensen et al. (2005) Failed Medical Termination of Twin Pregnancy with Mifepristone: A Case Report. Contraception 71:231-233.

11. Wiebe, Ellen, Edith Guilbert, Francis Jacot, Caitlin Shannon and Beverly Winikoff. (2004) A Fatal Case of Clostridium sordellii Septic Shock Syndrome Associated With Medical Abortion. Obstetrics and Gynecology 104(5):1142-44.

12. Monday, July 18, 2005 7:38:39 PM ET, Abortion pill maker alerts doctors to five deaths. Reuters, Washington. Retrieved July 19, 2005.

13. Basu, Ranjan, Tina Gundlach, and Margaret Tasker. (2003) Mifepristone and misoprostol for medical termination of pregnancy: the effectiveness of a flexible regimen. Journal of Family Planning and Reproductive Health Care 29(3):139-41.

14. Stubblefield, Phillip G., Sacheen Carr-Ellis, and Lynn Borgatta. (2004) Methods for Induced Abortion. Obstetrics and Gynecology 104(1): 174-185.

15. Hausknecht, R. (2003) Mifepristone and misoprostol for early medical abortion: 18 months experience in the United States. Contraception 61:463-65.

16. Allen, Rebecca H., Carolyn Westhoff, Lara De Nonno, Stephen L. Fielding, and Eric A. Schaff. (2001) Curettage After Mifepristone-Induced Abortion: Frequency, Timing, and Indications. Obstetrics and Gynecology 98(1): 101-6.

17. Hamoda, Haitham, Premila W. Ashok, Gillian M. M. Flett and Allan Templeton. (2003) Medical abortion at 64 to 91 days of gestation: A review of 483 consecutive cases. American Journal of Obstetrics and Gynecology 188(5): 1315-19.

18. Mitka, Mike. (2000) Some Men Who Take Viagra Die ? Why? Journal of the American Medical Association (283)5: 590-593.

19. Monday, July 19, 2005, 2 More Women Die After Abortion Pills, Gardiner Harris. New York Times Retrieved July 20, 2005.

20. Hamoda, Haitham, Premila W. Ashok, Gillian M.M. Flett, and Allan Templeton. (2005) Medical abortion at 9-13 weeks gestation: a review of 1076 consecutive cases. Contraception 71: 327-332.

21. Ashok, Premila W., Avril Kidd, Gillian M.M. Flett, Ann Fitzmaurice, Wendy Graham and Allan Templeton. (2002) A randomized comparison of medical abortion and surgical vacuum aspiration at 10-13 weeks gestation. Human Reproduction (17)1: 92-98.

22. Ashok, Premila W., Allan Templeton, Prabhath T. Wagaarachchi, and Gillian M.M. Flett. (2002) Factors affecting the outcome of early medical abortion: a review of 4132 consecutive cases. British Journal of Obstetrics and Gynaecology 109: 1281-1289.

23. Chen, Aimin, Wei Yuan, Olav Meirik, Xianmi Wang, Shi-Zong Wu, Lifeng Zhou, Lin Lou, Ersheng Gao and Yimin Cheng. (2004) Mifepristone-induced Early Abortion and Outcome of Subsequent Wanted Pregnancy. American Journal of Epidemiology (160)2: 110-117.

24. Coyaji, Kurus, Batya Elul, Usha Krishna, Suhas Otiv, Shubha Ambardekar, Arti Bopardikar, Veena Raote, Charlotte Ellertson and Beverly Winikoff. (2001) Mifepristone abortion outside the urban research hospital setting in India. Lancet 357: 120-21.

25. MedlinePlus Medical Encyclopedia, Ectopic pregnancy

26. Kruse, Beth, Suzanne Poppema, Mitchell D. Creinin and Maureen Paul. (2000) Management of side effects and complications in medical abortion. American Journal of Obstetrics and Gynecology 183(2):S65-S75.

27. American College of Obstetricians and Gynecologists. (1999) The Rh Factor: How It Can Affect Your Pregnancy. Medem Network: Medical Library.

28. Schaff, E.A., S.L. Fielding, S.H. Eisinger et al. (2
000) Low-dose mifepristone followed by vaginal misoprostol at 48 hours for abortion up to 63 days. Contraception 61:41-46.

29. Rossi, Brooke, Mitchell D. Creinin and Leslie A. Meyn. (2004) Ability of the clinician and patient to predict the outcome of mifepristone and misoprostol medical abortion. Contraception 70:313-17.

30. Grimes, David A. and Mitchell D. Creinin. (2004) Induced Abortion: An Overview for Internists. Annals of Internal Medicine 140(8):620-27.

31. Rayas, Luca, Diane Catotti and Ana Corts. (2004) Achieving ICPD commitments for abortion care in Latin America: The unfinished agenda. Ipas: Chapel Hill, NC.
IPAS

32. Allan Guttmacher Institute. (1999) Sharing Responsibility: Women, Society and Abortion Worldwide. Alllan Guttmacher Institute

33. Shannon, C., L. Perry Brothers, Neena M. Philip, and Beverly Winikoff. (2004) Infection after medical ab
ortion: a review of the literature. Contraception 70:183-190.

34. Shannon, C., L. P. Brothers, N. Philip and B. Winikoff. (2004) Ectopic Pregnancy and Medical Abortion. Obstetrics and Gynecology. 104(1):161-167.

35. Saraiya M, Green CA, Berg CJ, Hopkins FW, Koonin LM, Atrash HK. (1999) Spontaneous abortion-related deaths among women in the United States ? 1981-1991. Obstetrics and Gynecology 94(2):172-6.

36. Centers for Disease Control and Prevention. (2005) Clostridium sordellii Toxic Shock Syndrome After Medical Abortion with Mifepristone and Intravaginal Misoprostol United States and Canada, 2001 2005. Morbidity and Mortality Weekly Report 54(29):724.

37. U.S. Food and Drug Administration. (2005) FDA Public Health Advisory: Sepsis and Medical Abortion. FDA Retrieved August 5, 2005.

38. Berg, Cynthia J., Jeani Chang, William M. Callaghan, and Sara J. Whitehead. (2003) Pregnancy-Related Mortality in the United States, 1991 1997. Obstetrics and Gynecology 101(2):289-296.

39. McGregor JA, Soper DE, Lovell G, Todd JK. (1989) Maternal deaths associated with Clostridium sordellii infection. American Journal of Obstetrics and Gynecology 161(4):987-95.

40. Creinin, Mitchel D, Eliane Shore, Shyamala Balasubramanian and Bryna Harwood. (2005) The true cost differential between mifepristone and misoprostol and misoprostol-alone regimens for medical abortion.
Contraception 71:26-30.

41. World Health Organization. WHO Mortality Database.

42. Creinin MD, Aubeny E. (1999) Medical Abortion in early pregnancy. In: A Clinician?s Guide to Medical and Surgical Abortion, Paul M, Lichtenberg ES, Borgatta L, Grimes DA and Stubblefield PG, eds. Churchill Livingstone: New York.

43. World Health Organization. (2005) The World Health Report 2005 Make
Every Mother and Child Count. The World Health Organization: Geneva.
WHO

44. Daulaire, Nils, Pat Leidl, Laurel Mackin, Colleen Murphy, and Laura Stark. (2002) Promises to Keep: The Toll of Unintended Pregnancies on Women?s Lives in the Developing World. Global Health Council: Washington, D.C. IPAS

45. Rozenberg P, Chevret S, Camus E, Tayrac R, Garbin O, Poncheville L, Coiffic J, Lucot JP, Le Gouell F, Tardif D, Allouche C, Fernandez H, and GROG. (2003) Medical treatment of ectopic pregnancies: a randomized clinical trial comparing methotrexate-mifepristone and methotreate-placebo. Human Reproduction 18(9):1802-08.

46. Gray, Richard. Doctors let 50 women abort babies at home. Scotland on Sunday. July 3, 2005:10

47. Gideon Koren, Lavinia Schuler. Taking drugs during pregnancy. How safe is unsafe?
Canadian Family Physician. Vol 47: Mai 2001

48. G Blanch, Squenbyh, ES Ballantyne, CM Gosden, JP Neilson, K Holland, Embryonic abnormalities at medical termination of pregnancy with Mifepristone and Misoprostol during first trimester. British Medical Journal Vol. 316, pp 1712-1713, 6 June 1998

49. A Pastuszak, L Schuler ea, Use of Misoprostol during pregnancy and Mobius syndrome in infants. The New England Journal of Medicine, Vol. 338, number 26 pp 1881-1885, June 25, 1998

50. L Schuler, A Pastuszak, M Teresa ea. Pregnancy Outcome after exposure to misoprostol in Brazil, a prospective controlled study. Reproductive Toxicology, Vol 13, No 2, pp 147-151, 1999

51. T da Silva Dal Pizzol, V Tierling, ea. Reproductive results associated with Misoprostol and other substances utilized for interruption of pregnancy. Eur.J Clin. Pharmacol (2005) 61: 71-72.

52. David S. Newberger, M.D. Down syndrome: Prenatal risk assessment and diagnosis. American Family Physician, Vol. 62/No. 4 (August 15, 2000)

53. Essential medicines, WHO Model list (revised March 2005), page 20. WHO

54. Hamoda, Ashok, Flett and Templeton. A randomized trial of mifepriston in combination with misoprostol administered sublingually or vaginally for medical abortion at 13-20 weeks of gestation.
Human Reproduction. Advance Access, May 5, 2005, pp 1-7.

55. Hedley, Ellertson, Trussell ed, Accounting for time: Insights from a life-table analysis of the efficacy of medical abortion. American Journal of Obstetrics and Gyneacology (2004) 191, pp 1928-33

56. Timothy Craig, Cathy Mende. Common allergic and allergic-like reactions to medications. Postgraduate Medicine, vol105/ no 3/ March 1999

57. Prof P Potter, Allergy society of South Africa Retrieved August 12, 2005

58. G William Palmer, Stephen Dreskin, Anaphylaxis. E-Medicine, October 2004. pp 3. Retrieved August 12, 2005

59. Hamoda, Ashok, Flett, Templeton, A randomized controlled trial of Mifepristone in combination with misoprostol administered sublingually or vaginally for medical abortion up to 13 weeks of gestation. BJOG 2005 Aug; 112(8): 1102-8

60. CBC trust

61. Middleton T, Schaff EA, Fielding SL, Scahill M, Shannon C, Westheimer E, Wilkinson T, Winikoff B. Randomized trial of mifepristone and buccal or vaginal misoprostol for abortion through 56 days of LMP. Contraception 2005; 72:328-332.

62. Hannafin B, Lovecchio F, Do Rh-negative women with first trimester spontaneous abortions need Rh immune globulin? Am J Emerg Med. 2006 Jul;24(4):487-9.

63. “Frequently asked clinical questions about medical abortion”, WHO

64. How much supervision is necessary for women taking mifepristone and misoprostol for early medical abortion? Caitlin Shannon1 & Beverly Winikoff, Women’s Health, March 2008, Vol. 4, No. 2, Pages 107-111

65. Early abortion pill information

66. Repeat Abortion in the United States Jones RK, Singh S, Finer LB, Frohwirth LF, Occasional Report No. 29, November 2006, p.13

67. Winer N, Resche-Rigon M, Morin C, Ville Y, Rozenberg P., Is induced abortion with misoprostol a risk factor for late abortion or preterm delivery in subsequent pregnancies?, Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2009 May 6.

68. Pauleta JR, Clode N, Graça LM, Expectant management of incomplete abortion in the first trimester, Int J Gynaecol Obstet. 2009 Mar 28.

69. Rachael L. McEwing, Nigel G. Anderson, Jeremy B. A. Meates, Richard B. Allen, Greg T. M. Phillipson, and J. Elisabeth Wells. Sonographic Appearances of the Endometrium After Termination of Pregnancy in Asymptomatic Versus Symptomatic Women JUM May 2009 28:579-586

70. Gynuity (2009) Providing medical abortion in low-resource settings: An Introductory Guidebook, Second Edition gynuity.org/downloads/MA_guidebook_2nd_ed_en.pdf

71. Bar-Hava I, Aschkenazi S, Orvieto R, et al. Spectrum of normal intrauterine cavity sonographic findings after first trimester abortion. J Ultrasound Med 2001; 20:1277– 1281.

72. Sawyer E, Ofuasia E, Ofili-Yebovi D, Helmy S, Gonzalez J, Jurkovic D. The value of measuring endometrial thickness and volume on transvaginal ultrasound scan for the diagnosis of incomplete miscarriage. Ultrasound Obstet Gynecol 2007; 29:205–209

73. Akin A., Blum J., Özalp S., Onderoglu L., Kirca U., Bilgili N, et al. (2004); Results and lessons learned from a small medical abortion clinical study in Turkey; Contraception; 70; 401 – 406

74. Bracken H. (2010); Home administration of misoprostol for early medical abortion in India; International Journal of Gynecology and Obstetrics; 108; 228 – 232

75. Chuni N., Chandrashekhar TS. (2009); Early pregnancy termination with a simplified mifepristone: Medical abortion outpatient regimen; Kathmandu University Medical Journal; 7 (3) Issue 27; 209 – 212

76. Creinin M.D., Pymar H.C., Schwartz J.L. (2001); Mifepristone 100 mg in abortion regimens; Elsevier Science – Obstetrics & Gynecology; 98 (3); 434 – 439

77. Creinin M.D., Schreiber C.A., Bednarek P., Lintu H., Wagner M.S., Meyn L.A. (2007); Mifepristone and Misoprostol Administered Simultaneously Versus 24 Hours Apart for Abortion: A Randomized Controlled Trial; Obstetrics & Gynecology; 109 (4); 885–94

78. Fjerstad M., Sivin I., Lichtenberg E.S., Trussell J., Cleland K., Cullins V. (2009); Effectiveness of medical abortion with mifepristone and buccal misoprostol through 59 gestational days; Contraception; 80; 282 – 286

79. Guest J., Chien P., Thomson M., Kosseim M. (2007); Randomised controlled trial comparing the efficacy of same-day administration of mifepristone and misoprostol for termination of pregnancy with the standard 36 to 48 hour protocol; BJOG; 114; 207 – 215

80. Heikinheimo O., Gissler M., Suhonen S. (2008); Age, parity, history of abortion and contraceptive choices affect the risk of repeat abortion; Contraception; 78; 149 – 154

81. Henderson J.T., Hwang A.C., Harper C.C., Stewart F.H. (2005); Safety of mifepristone abortions in clinical use; Contraception; 72; 175 – 178

82. von Hertzen H., Piaggio G., Wojdyla D., Marions L., My Huong N.T., Tang O.S. et al. (2009); Two mifepristone doses and two intervals of misoprostol administration for termination of early pregnancy: a randomised factorial controlled equivalence trial; The World Health Organization Journal compilation: RCOG 2009 BJOG An International Journal of Obstetrics and Gynaecology

83. Kopp Kallner H., Fiala C., Stephansson O., Gemzell-Danielsson K. (2010); Home self-administration of vaginal misoprostol for medical abortion at 50-63 days compared with gestation of below 50 days; Oxford University Press on behalf of the European Society of Human Reproduction and Embryology; 1 – 5

84. Knudsen U.B. (2001); First trimester abortion with mifepristone and vaginal Misoprostol; Contraception; 63; 247 – 250

85. Li Y.T., Hou G.Q., Chen T.H., Chu Y.C., Lin T.C., Kuan L.C., et al. (2008); High-Dose Misoprostol as An Alternative Therapy After Failed Medical Abortion; Taiwan Journal of Obstetrics and Gynecology; 47 (4); 408 – 411

86. Lin M., Li Y.T., Chen F.M, Wu S.H., Tsai C.W., Chen T.A., et al. (2006); Use of Mifepristone and Sublingual Misoprostol for Early Medical Abortion; Taiwanese Journal of Obstetrics and Gynecology; 45 (4); 321 – 324

87. Livshits A., Machtinger R., David L.B., Spira M., Moshe-Zahav A., Seidman D.S.; Ibuprofen and paracetamol for pain relief during medical abortion: a double-blind randomized controlled study; Fertility and Sterility; 91 (5); 1877 – 1880

88. Manaktala U., Singla R., Rathore A.M., Garg S. (2007); Low Dose Mifepristone And Vaginal Misoprostol: A Safe Option For Termination Of Pregnancy Up To 63 Days; The Internet Journal of Gynecology and Obstetrics; 8 (1)

89. Middleton T., Schaff E., , Fielding S.L., Scahill M., Shannon C., Westheimer E., et al. (2005); Randomized trial of mifepristone and buccal or vaginal misoprostol for abortion through 56 days of last menstrual period; Contraception; 72; 328– 332

90. Nobili M.P., Piergrossi S., Brusati V., Moja E.A. (2007); The effect of patient-centered contraceptive counseling in women who undergo a voluntary termination of pregnancy; Patient Education and Counseling; 65; 361–368

91. Perriera L.K., Reeves M.F., Chena B.A., Hohmanna H.L., Hayesa J., Creinin M.D. (2010); Feasibility of telephone follow-up after medical abortion; Contraception; 81; 143–149

92. Raghavan S., Comendant R., Digol I., Ungureanu S., Friptu V, Bracken H., et al. (2009); Two-pill regimens of misoprostol after mifepristone medical abortion through 63 days’ gestational age: a randomized controlled trial of sublingual and oral Misoprostol; Contraception; 79; 84 – 90

93. Raghavan S., Comendant R., Digol I., Ungureanu S., Dondiuc I., Turcanu S., et al. (2010); Comparison of 400 mcg buccal and 400 mcg sublingual misoprostol after mifepristone medical abortion through 63 days’ LMP: a randomized controlled trial; Contraception; unknown

94. Reeves M.F., Kudva A., Creinin M.D. (2008); Medical abortion outcomes after a second dose of misoprostol for persistent gestational sac; Contraception; 79; 332 – 335

95. Schaff E.A., Fielding S.L., Westhoff C. (2002); Randomized trial of oral versus vaginal Misoprostol 2 days after mifepristone 200 mg for abortion up to 63 days of pregnancy; Contraception; 66; 247 – 250

96. Schaff E.A., Fielding S.L., Westhoff C., Ellertson C, Eisinger S.H., Stadalius L.S., et al. (2000); Vaginal misoprostol administered 1, 2, or 3 days after mifepristone for early medical abortion; Journal of the American Medical Association; 284; 1948 – 53

97. Shan Tang O., Chan C.C.W., Ng E.H.Y., Lee S.W.H., Chung Ho P. (2003); A prospective, randomized, placebo‐controlled trial on the use of mifepristone with sublingual or vaginal misoprostol for medical abortions of less than 9 weeks gestation; Human Reproduction; 18 (11); 2315 – 2318

98. Shannon C., Wiebe E., Jacot F., Guilbert E., Dunn S., Sheldon W.R., et al. (2006); Regimens of misoprostol with mifepristone for early medical abortion: a randomised trial; BJOG An International Journal of Obstetrics and Gynaecology; 133; 621 – 628

99. Shannon C.S., Winikoff B., Hausknecht R., Schaff E., Blumenthal P.D., Oyer D., et. al. (2005); Multicenter Trial of a Simplified Mifepristone Medical Abortion Regimen; Obstetrics & Gynecology; 105 (2); 345 – 351

100. Shuchita M., Shveta K., Batya E., Suresh U. (2008); Simplifying medical abortion: Home administration of Misoprostol; Journal of Obstetrics and Gynecology of India; 58 (5); 410 – 416

101. Winikoff B., Dzuba I.G., Creinin M.D., Crowden W.A., Goldberg A.B., Gonzales J., et al. (2008); Two Distinct Oral Routes of Misoprostol in Mifepristone Medical Abortion: A Randomized Controlled Trial; Obstetrics & Gynecology; 112 (6); 1303 – 1310

102. Wedisinghe, L., Elsandabesee, D. (2010) Flexible mifepristone and misoprostol administration interval for first-trimester medical termination, Contraception, Volume 81, Issue 4, April, Pages 269-274

103. Fiala C, Gemzel-Danielsson K (2006) Review of medical abortion using mifepristone in combination with a prostaglandin analogue. Contraception. 2006 Jul;74(1): 66-86

104. Gemzell-Danielsson K, Lalitkumar S. (2008) Second trimester medical abortion with mifepristone-misoprostol and misoprostol alone: a review of methods and management. Reprod Health Matters May;16(31 Suppl): 162-72

105. Ho PC, Blumenthal PD, Gemzell-Danielsson K, Gómez Ponce de León R, Mittal S, Tang OS. (2007) Misoprostol for the termination of pregnancy with a live fetus at 13 to 26 weeks. Int J Gynaecol Obstet. 2007 Dec;99 Suppl 2: S178-81

Kajian Psikologi:

Adler NE, David HP, Major BN, Roth SH, Russo NF, Wyatt GE. (1992) Psychological factors in abortion: a review.
American Psychology 47:1194-204.

Dagg PKB. (1991) The psychological sequelae of therapeutic abortion: denied and completed. American Journal of Psychiatry 148:578-85.

Stotland NL. (1997) Psychosocial aspects of induced abortion. Clinical Obstetrics and Gynecology 40:673-86.

Stotland NL. (2002) Psychiatric issues related to infertility, reproductive technologies, and abortion. Primary Care 29:13-26.

AMRC — Academy of Medical Royal Colleges (2011) Induced Abortion and Mental Health: A Systematic Review of the Mental Health Outcomes of Induced Abortion, Including their Prevalence and Associated Factors. London: Academy of Medical Royal Colleges

Charles, Vignetta E., et al. (2008). Abortion and Long-Term
Mental Health Outcomes: A Systematic Review of the
Literature. Contraception, 78, 436–50

[collapse]
082242108531
082242108531
082242108531
D9A5E89D